Antisipasi "Elnino Gozilla", Kementan Perkuat Sinergi di Jawa Tengah dan DIY
Semarang – Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian menggelar Rapat Koordinasi Antisipasi Potensi Kekeringan Wilayah Jawa Tengah dan DIY di BBWS Pamali Juwana (01/04/26).
Rapat ini untuk menghadapi potensi kekeringan ekstrem atau fenomena "Elnino Gozilla", menekankan pentingnya modernisasi pertanian dan percepatan infrastruktur air untuk menjaga target swasembada pangan.
Pemerintah mendorong adopsi teknologi pertanian modern yang berkaca pada keberhasilan di Vietnam. Melibatkan ahli dari IRRI dengan penerapan teknologi hemat air melalui pergiliran air yang akan diuji coba di lahan seluas 3.200 hektar di Jateng. Imbauan bagi petani untuk tidak membakar jerami pasca-panen guna menjaga kelembapan tanah dan mendukung produksi di tengah intensitas matahari yang tinggi.
Dirjen PSP, Dr. Andi Nur Alam Syah, menegaskan komitmen pemerintah dengan rencana pengiriman 1.000 unit Alsintan ke Jawa Tengah pada akhir tahun. Fokus utama saat ini adalah memastikan infrastruktur irigasi selaras dengan bantuan mesin yang diberikan.
"Bulan kritis diperkirakan jatuh pada April dan Mei, sehingga pencegahan melalui sinkronisasi irigasi pompa (irpom) dan irigasi perpompaan (irpip) menjadi sangat krusial," tegasnya dalam arahan rapat tersebut.
Dalam rapat tersebut, sejumlah capaian dan kendala dilaporkan. Realisasi Luas Tambah Tanam (LTT) di Jateng hingga Maret mencapai 90% dari target. Dinas Pertanian Provinsi Jateng juga melaporkan keberhasilan sistem tanam "Sepur" di Grobogan yang mengintegrasikan mekanisasi dari panen hingga tanam kembali.
Laporan dari Wilayah Yogyakarta: Kondisi LTT terpantau hijau pada periode Oktober-November, dengan fokus saat ini pada verifikasi CPCL untuk bantuan irpip dan irpom.
Sedangkan ketersediaan Air: Kepala PJTS 1 menyatakan tinggi air di beberapa waduk, termasuk Wonogiri, masih aman untuk mencukupi kebutuhan hingga September, bahkan diupayakan hingga Desember 2026.
Beberapa tantangan mendesak muncul, seperti kebocoran di Bendung Cipro, Tegal, yang mengancam 5.318 hektar lahan. Selain itu, masalah hama tikus di Demak yang membutuhkan penanganan spesifik menggunakan belerang alih-alih racun konvensional.
Direktorat Irigasi kini tengah melakukan percepatan verifikasi data CPCL (Calon Petani Calon Lokasi) di wilayah-wilayah besar seperti Cilacap, Sukoharjo, Demak, dan Grobogan. Pemerintah juga memfasilitasi kerja sama dengan Pertamina melalui penyuluh di CWS untuk mempermudah akses bahan bakar bagi petani yang mengoperasikan mesin irigasi pompa.
Rapat koordinasi lanjutan dijadwalkan akan digelar minggu depan guna memetakan permasalahan mendetail dari masing-masing daerah agar penanganan kekeringan dapat dilakukan secara tepat sasaran.